Langsung ke konten utama

Postingan

Pramoedya dan Percakapan Tiga Lelaki

Hari ini Pram berulang tahun! 06 Februari 1925 lelaki asal Blora, Jawa Tengah itu lahir. Lelaki keras kepala yang seluruh kemerdekaan hidupnya dirampas oleh penguasa, kecuali isi kepalanya yang dituangkan melalui karya-karya tulisan adalah kebebasan sejati manusia melihat penderitaan manusia atas manusia. Seperti katanya sendiri dalam karya Roman Jejak Langkah (1985); “masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri” . Penjara dan penyiksaan dari rezim penguasa yang berbeda tak membuatnya bungkam. Penjara bagi mereka yang teguh pada keyakinan dan keberpihakan kepada kemanusiaan adalah kepanikan bagi rezim penguasa. Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya terbaiknya yang lahir dari segala penderitaan dan keterbatasannya di penjara. Penjara yang sesungguhnya bagi Pram adalah kemalasan dan ketidakpedulian. “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati” adalah kalimat sederhana yang disampaikan Pram lewat Roman Bumi M...

Masjid?

Bangunlah tempat ibadah yang megah, maka Tuhan akan menerima setiap doa-doamu . Mungkin saja itu yang ada dalam benak pikiran para penggagas mega proyek Center Poin of Indonesia (CPI) dengan membangun Masjid 99 Kubah di area reklamasi seluas kurang lebih 150 hektar yang terletak di depan Pantai Losari Kota Makassar. Masjid yang didesain langsung oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat saat ini, kelak akan menjadi masjid termegah di Benua Asia dan ikon wisata religi baru di Sulawesi Selatan. Lokasinya begitu dekat dengan Masjid Terapung Amirul Mukminin Pantai Losari, masjid yang juga merupakan ikon Kota Makassar. Patutlah berbangga penghuni kota ini, dua masjid megah tersebut menjadi tempat beribadah yang nyaman dan menawarkan keindahan panorama Pantai Losari . Seakan ingin menegaskan bahwa Jika kau ingin khuysuk bertemu Tuhan, temuilah ditempat-ditempat yang nyaman dan indah . Masjid 99 Kubah dibangun dibekas tanah tumbuh, dulunya merupakan tempat bermukimnya nelayan tradisiona...

Alam, Manusia dan Bagaimana Negara?

Dua bulan terakhir saya mulai kembali bepergian di berbagai tempat yang masih memiliki potensi kekayaan alam dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakatnya. Beberapa tempat, seperti di Komunitas Masyarakat Adat Kajang Bulukumba, masyarakat pesisir Galesong Raya Takalar, masyarakat dataran tinggi Pegunungan Karaeng Lompo Gowa dan penghujung tahun ini saya masih berada di Kabupaten Enrekang bertemu dengan masyarakat lokal di sekitar kawasan hutan. Saya berkunjung dan bertemu masyarakat bukan untuk menggurui mereka, hanya karena saya mengenyam pendidikan tinggi bukan berarti berarti tahu segala hal dan berlagak seolah-olah manusia berpendidikan yang datang membawa perubahan. Di tempat mereka manusia yang memiliki gelar dari capaian atas pendidikan formal justru kebanyakan menjadi aktor dari rusaknya hubungan harmonis antara mereka dengan alam. Sebaliknya saya datang memposisikan diri untuk belajar dan menggali banyak informasi perihal makna dibalik relasi manusia dengan alam yang melahi...

Selamat Ulang Tahun Front Mahasiswa Nasional: Teruslah Berjuang Bersama Rakyat!

Yakinlah, selalu ada banyak cara untuk mencintai organisasi" Oki Hajiansyah Wahab (Alumni FMN) Hormatku dan rasa bangga kepada kawan alumni dengan tekad dan pengorbanan yang kuat telah mendeklarasikan organisasi massa mahasiswa nasional yang patriotik, militan dan demokratik 11 tahun lalu di Balai Rakyat, Utan Kayu, Matraman, Jakarta. Terima kasih yang sebesar-besarnya pula kepada pemimpin pembebasan (Klas buruh), kepada Sokoguru Pembebasan (Kaum tani), yang telah memberikan FMN sejuta pengalaman maju yang menjadikan kita teguh, kuat dan tetap bertalian erat dan percaya dengan aliansi dasar buruh dan tani untuk melawan 3 musuh rakyat. Hari ini Front Mahasiswa Nasional tetap tegak berdiri sebagai organisasi dengan masa depan yang gemilang,  terus belajar dari pasang surutnya perjalanan dan tetap selalu menjadi bagian dari perjuangan massa dalam panji demokratis nasional..    Saya mengenal FMN di Makassar sewaktu masih semester dua, tepatnya pada agustus...

The Kablams (Awal Mula)

Cerita 01 Cerita ini 80 persennya diangkat dari kisah nyata sekelompok anak muda yang memiliki misi visi menolak tua. 20 persennya adalah fiksi, itu tergantung dari saya mau menambahkan atau mengurangi isi ceritanya, toh sebagai penulis saya punya hak prerogatif. Hahaha (ketawa jahad). *** Kami berlima akhirnya bersepakat atau mungkin cenderung dipaksakan untuk membuat genk. Bisa jadi ini merupakan sebuah faksi dalam komunitas kami sendiri. Tujuannya bukan untuk melakukan kudeta terselubung atau kudeta merangkak yang dipopulerkan oleh sejarawan Asvi Warman Adam dalam melihat peristiwa Gerakan 30 September 1965. Untuk apa juga kami melakukan kudeta, sementara komunitas ini tidak memiliki ketua atau makhluk sejenisnya, Jangan tanyakan soal berapa besar dana hibah yang dikelola komunitas ini. Saya sedikit punya pengalaman lebih dalam mendirikan genk dibandingkan anggota genk yang lain. Sedikit cerita tentang pengalaman ini. Pertama kali saya mendirikan genk bersama...

29 Desember 2011 dan setelah itu..

Kamis 29 September 2011.., Kegiatan kuliah bersama HMJ Pend.Sejarah FIS UNM di gedung rektorat lantai tiga berjalan lancar dengan jumlah peserta yang melebihi target. Suatu hal yang patut diapresiasi kepada teman-teman panitia. Sekitar Pukul 12.00 WITA, konsentrasi panitia terpecah, kegiatan yang sementara berlangsung dalam sesi tanya jawab mulai terganggu dengan keributan yang terjadi di samping gedung rektorat. Dan seorang  teman memberi info kepada saya. “Ada anak sejarah ditikam bro di samping kampus”. Saya dan beberapa teman-teman pengurus  HMJ langsung menuju di lokasi  keributan. Ternyata pada waktu itu teman-teman sedang mengejar pelaku penikaman yang katanya masih berada di area kampus tetapi tidak ditemukan juga, dan sementara saudara kami “Irpan Nasir”? Saya melihat lumuran darah dan rasa sakit yang dia tahan. Setelah itu saya tidak bisa terlalu mengingat jauh lebih dalam lagi kronologi kejadian, selain hujan yang menandai kepergiannya.  Almarhum dikebum...

Selamat Bermusyawarah Rumah!

"Rumah tetaplah rumah, sekali kau sebut rumah artinya sekeping hatimu akan tinggal disana". (Aditia Yudis) Membangun   rumah tidak hanya sekedar menjadi tempat tinggal. Kita bisa lihat bagaimana rumah-rumah panggung di Sulawesi Selatan yang ternyata memiliki makna filosofis. Misalnya, Suku Bugis yang memandang rumah sebagai ruang pusat siklus kehidupan. Tempat kita lahir, tumbuh besar dan kembali menjad tanah. Rumah panggung Suku Bugis terdiri dari tiga bagian, yaitu Rakkeang (dunia atas), Ale Bola (dunia tengah) dan Awa Bola (dunia bawah) yang   kontruksinya memilik makna tentang harmonisasi Tuhan, alam dan Manusia.  Rumah sejarah yang bersejarah adalah rumah kedua saya setelah rumah di kampung. Rumah yang memasuki tahun ke-20 bermusyawarah sejak kampus yang berubah dari institut menjadi universitas. Menjadi salah satu penghuni rumah dari sekian banyak penghuni, bagi saya adalah kebanggaan tersendiri meskipun kontribusi yang saya berikan bisa dikatakan masih ...