Langsung ke konten utama

Selamat Bermusyawarah Rumah!


"Rumah tetaplah rumah, sekali kau sebut rumah artinya sekeping hatimu akan tinggal disana". (Aditia Yudis)


Membangun  rumah tidak hanya sekedar menjadi tempat tinggal. Kita bisa lihat bagaimana rumah-rumah panggung di Sulawesi Selatan yang ternyata memiliki makna filosofis. Misalnya, Suku Bugis yang memandang rumah sebagai ruang pusat siklus kehidupan. Tempat kita lahir, tumbuh besar dan kembali menjad tanah. Rumah panggung Suku Bugis terdiri dari tiga bagian, yaitu Rakkeang (dunia atas), Ale Bola (dunia tengah) dan Awa Bola (dunia bawah) yang  kontruksinya memilik makna tentang harmonisasi Tuhan, alam dan Manusia. 

Rumah sejarah yang bersejarah adalah rumah kedua saya setelah rumah di kampung. Rumah yang memasuki tahun ke-20 bermusyawarah sejak kampus yang berubah dari institut menjadi universitas. Menjadi salah satu penghuni rumah dari sekian banyak penghuni, bagi saya adalah kebanggaan tersendiri meskipun kontribusi yang saya berikan bisa dikatakan masih begitu kecil untuk melihat rumah ini tetap berdiri tegak dengan prinsip kebersamaannya dan mampu menyesuaikan dengan gerak zaman. Rumah ini adalah awal dari segalanya, tempat pertama memulai untuk menemukan ke-akuan dari tempaan hiruk pikuk persoalan yang menghidupkan naluri kemanusiaan dan meredahkan keegoan.

“Kau tidak cukup hanya mengetahui masalah, kau harus menjadi bagian dari penyelesaian masalah itu karena masalah adalah proses pendewasaan”. Kalimat itu pertama kali saya dengar dari seorang kakak ketika pertama kali saya mengikuti rangkaian proses menjadi salah seorang pengurus organisasi himpunan yang akan belajar bertanggung jawab menjaga rumah itu. Apakah sampai hari ini saya masih bertanggung jawab? Ya atau tidak, jawaban itu akan ditanggapi dengan banyak persepsi dari ragam perspektif. 

Bagi saya rumah tetaplah rumah yang tidak akan pernah bertanya apakah kau menjaganya atau tidak karena pintu rumah akan selalu terbuka kepadanya yang merasa penghuni rumah. Dimana pun dan kapan pun jagalah prinsip dari rumah itu; jangan berhenti belajar, jangan hidup untuk diri sendiri dan beranilah pada kehidupan, maka rumah itu tetap akan selalu ada di hati dan pikiran.

Bermusyawarah adalah cara rumah untuk memanggilmu pulang sejenak. Berkumpul, mengenang masa dan melihat regenerasi yang sedang tumbuh dalam prosesnya.  Satu nilai yang penting untuk terus dijaga dalam rumah ini ketika bermusyarawah adalah terus memberi ruang-ruang berdemokrasi bagi siapa saja yang berkehendak menjadi pemimpin  rumah. Selama saya mengikuti proses musyawarah, persoalan siapa yang menjadi pemimpin tidaklah menjadi polemik yang memaksakan hasrat kuasa. Semuanya mengalir dan bersepakat ketika ritual pemilihan selesai, siapapun itu, dialah pemimpin kami! 

Karena yang terpenting dalam proses bermusyawarah adalah tahapan mengevaluasi segala usaha, kerja keras yang telah dilalui selama satu tahun periode untuk melihat, mengukur dan menyimpulkan apa yang akan menjadi bekal pembelajaran untuk perjalanan periode setahun selanjutnya dalam menjaga nilai-nilai dan prinsip rumah secara struktural maupun kultural. Karena kita sejarah, belajar bukan menjadi pahlawan tetapi belajar menjadi bijaksana dari makna peristiwa masa lalu. Historia Magistra Vitae.

Oh iya, setelah bermusyawarah jangan keseringan menghabiskan banyak waktu di dalam rumah, mulailah bersepakat membuat halaman rumah yang sejuk nan teduh sebagai tempat bermain, menghabiskan buku bacaan kesukaan, membangun wacana, bersantai, menghilangkan penat, dan melepas ketegangan agar tidak menjadi manusia yang kaku ketika kita keluar dari rumah.

Di halaman rumah kita bisa pula mengeksplorasi ide-ide kreatif yang tetap kritis. Sebab rumah tanpa halaman rumah hanya akan menjadikan penghuni rumah sekedar melepaskan  waktu untuk makan, beristirahat dan tidur. Jadilah rumah yang melepas semua sekat-sekat pembatas, rumah yang menerima dengan terbuka belbagai ilmu dan rumah yang tetap menjaga pesan kearifan dari penghuni-penghuni rumah sebelumnya.

Selamat bermusyarawah rumah! 
Dari penghuni yang mencintaimu dengan cara berbeda.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelorakan perjuangan di kampus! Gapai hak kita!

" Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. (Pramoedya) Waktu itu saya baru semester 2, salah seorang dari civitas akademika kampus memberi saya pesan. “ Jangan ikuti seniormu yang suka demo, fokus kuliah saja”. Hal pertama yang terlintas dipikiran saya adalah tentang larangan untuk ikut berdemonstrasi? Kenapa? Dan apa sebabnya. Apakah perguruan tinggi berperan sebagai “rumah ilmu” ataukah perguruan tinggi merupakan sarana meningkatkan status sosial mahasiswa tersebut. Haruskah seseorang mahasiswa berkutat pada materi-materi kuliah saja ataukah mahasiswa juga melakukan persinggungan dengan realitas objektif (masyarakat)? Bagaimana seharusnya menjadi seorang mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan itu yang terkadang muncul dalam benak kita, yang terkadang kita sendiri tak tahu jawabannya. Dari sini kita bisa lihat bahwa sebetulnya tidaklah terlampau sulit untuk menyimpulkan atas fenomena ketimpangan yang terjadi...

H.O.S Cokroaminoto, Sosialisme Islam, dan Teologi Pembebasan

Bagi kita orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa ‘isme’ lainnya, yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulus, selain dari sosialisme yang berdasar Islam”. (H.O.S Cokroaminoto, 1924 )   (Islam dan Sosialisme karya H.O.S Cokroaminoto. Dok. Pribadi) Guru Bangsa," itulah julukannya. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, bukan hanya sekadar tempat kos bagi anak-anak muda saat itu. Rumahnya adalah habitat intelektual bagi calon-calon pemikir dan penggerak kemerdekaan. Soekarno dengan pemikiran Nasionalisme Indonesia, Kartosuwiryo dengan cita-cita Negara Islam Indonesia, dan Muso, Alimin, serta Semaun dengan ideologi komunisme sebagai jalan pembebasan. Rumah itu hidup dengan anak muda yang berdiskusi tentang bagaimana mereka membayangkan Indonesia di masa depan, merdeka dari kolonialisme Belanda. Rumah itu juga ramai dikunjungi oleh para aktivis dan ulama perintis awal kemerdekaan untuk rapat, berdiskusi, atau pun sekadar membaca buku. Rumah itu adalah milik pemimpin b...

Apakah kita adalah “Joker” dari Negara yang abai terhadap krisis lingkungan hidup?

Sumber Foto: thesunflower.com Film Joker menjadi trending topik sejak pemutaran perdananya pada tanggal 2 Oktober di Indonesia. Di media sosial begitu banyak yang mengapresiasi dan menulis review film ini dari beragam sudut pandang. Bahkan film Joker mendapatkan apresiasi yang luar biasa saat pemutaran perdananya pada salah satu ajang perfilman palin prestisius di dunia, Venice Film Festival dengan standing ovation penonton yang dilakukan selama 8 menit ! Beberapa waktu yang lalu saya pun berkesempatan untuk menonton film tersebut dan jika disuruh memilih menjadi Joker atau Batman, saya lebih baik memilih menjadi Joker. Di dunia nyata kita tidak akan pernah menemukan sosok pahlawan seperti Batman tetapi Joker sendiri adalah kenyataan dari individu-individu yang tidak mendapatkan hak untuk menjadi bahagia dari negara dan akhirnya dengan terpaksa memilih menjadi jahat. “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” merupakan salah satu dialog dalam film tersebut. Indiv...