Langsung ke konten utama

Merayakan makna kemerdekaan dalam bayang-bayang penggusuran



“Apakah kamu masih percaya negara?” seorang teman bertanya dengan serius.
“Apakah kita masih bisa mengatakan merdeka jika kemiskinan dan ketidakadilan masih nyata dilihat di depan mata?” lanjut bertanya kembali”
“Ah, sudah mi, pertanyaannmu tidak penting,” jawabku dengan santai
Seriuska inii bertanya cika’,” menatapku dengan tatapan tajam.
“Oke begini, bersama dengan warga Tallo, kami berencana akan mendirikan negara; Republik Rakyat Tallo (RRT) dan menjalin kerjasama serius dengan Negara Cina,” balasku dengan canda.

Malam itu hujan puisi berjatuhan di Pantai Marbo Tallo. Pak Ardi salah seorang Ketua RT juga turut membacakan puisi dan setelah itu diikuti secara bergantian oleh anak-anak muda setempat. Hanya bermodalkan pinjaman gitar akustik dan sound system dari salah satu organisasi UKM mahasiswa di kampus dan dengan pencahayaan lampu yang seadanya, bale-bale itu seketika menjadi panggung pertunjukan bagi para pencinta puisi. Warga sedang merayakan ritus kemerdekaan dengan mengadakan lomba baca puisi khusus untuk anak-anak di Kampung Manggarabombang, Kelurahan Tallo tetapi ternyata diluar dugaan sekitar ratusan warga yang hadir malam itu betul-betul menikmati setiap bait-bait puisi yang dibacakan.
Yasid, salah seorang anak yang mengikuti lomba baca puisi malam itu, membuat suasana menjadi hening dan membuat para pendengarnya larut terbawa emosi dengan puisi berjudul “Ibu” yang dibacakannya penuh penghayatan. Puisi bukan hanya milik dari yang menulis dan membaca puisi, puisi adalah bahasa perasaan, menjadi milik baginya yang menjadikan rasa sebagai jembatan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Puisi pun bisa menjadi hidup, penuh khidmat di tempat-tempat yang diklaim sebagai kawasan kumuh, ilegal, dan latar ekonomi warganya kebanyakan berkutat dalam kemiskinan.
Merayakan ritus kemerdekaan di Tallo merupakan tahun kedua bagi saya dan teman-teman Komunitas Ruang Abstrak Literasi, itu artinya pula kami sudah memasuki tahun kedua mengambil peran dalam gerakan literasi di pesisir Tallo dengan segala dinamikanya yang membuat kami tetap bertahan hingga saat ini. Tahun ini juga, perayaan kemerdekaan dengan berbagai macam lomba mulai dari olahraga, seni dan permainan tradisional dilaksanakan di dua kampung, yakni Kampung Manggarabombang dan Kampung Gampancayya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo.
Tidak banyak waktu untuk mempersiapkan semua hal, mulai dari konsep perayaan hingga teknis persiapan lomba. Tetapi warga terkhusus anak-anak muda di Tallo terlihat begitu kompak dan bersemangat untuk melibatkan dirinya menyukseskan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-73. Dua minggu sebelum perlombaan dimulai, kepanitiaan bersama terbentuk dengan melibatkan tokoh-tokoh warga setempat, anak-anak muda dan komunitas. Tahun ini juga kami bersyukur, Komunitas Mata Kita Sul-Sel dan Agen Obat Manjur KPK (Komisi Pemberantasan Anti Korupsi) dan beberapa relawan mahasiswa dari beberapa kampus di Kota Makassar juga ikut berpartisipasi, merayakan bersama kemerdekaan selama kurang lebih satu minggu dengan warga pesisir Tallo.
Di pesisir Tallo kita mencoba merayakan makna ritus kemerdekaan di tempat yang sesungguhnya belum sepenuhnya dapat dikatakan merdeka jika tolak ukurnya adalah terpenuhinya hak-hak dasar sebagai warga negara, seperti hak atas tempat tinggal kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan dan lain-lain. Secara kasat mata kita bisa melihat langsung kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh warga pesisir Tallo, salah satu contoh kasus adalah warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Banyak warga yang mengeluh karena mereka harus mengeluarkan biaya setiap bulan kisaran Rp. 300 ribu hingga Rp. 600 ribu untuk membeli air di pedagang air dengan harga Rp. 3.000 per gerobak dengan isi 12 jergen dengan kebutuhan air setiap harinya 3 sampai 5 gerobak. Belum lagi ketika menyinggung soal tangkapan hasil laut nelayan yang semakin menurun akibat dari limbah industri yang dibuang oleh perusahaan di muara Sungai Tallo dan proyek rakus reklamasi yang semakin luas sehingga daerah tangkapan ikan juga semakin terbatas. Oleh Pemerintah Kota Makassar, pesisir Tallo pun mendapat klaim sebagai kawasan kumuh dan identik dengan kemiskinan yang tentu membutuhkan sentuhan program penataan versi pemerintah.
Melalui program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) yang merupakan proyek pemerintah pusat atau dikenal dengan sebutan National Slum Upgrading Project, Kota Makassar menjadi salah satu kota dari 269 Kota di Indonesia yang melaksanakan program ini. Program KOTAKU sekilas merupakan program yang akan bermanfaat karena akan menata kawasan pemukiman yang dianggap kumuh dengan model pendampingan sosial ekonomi untuk keberlanjutan penghidupan warga yang telah tinggal di pemukiman tersebut. Kelurahan Tallo dan Kelurahan Buloa adalah dua kelurahan di Kecamatan Tallo yang dipilih sebagai lokasi prioritas program KOTAKU.
Tetapi fakta lain dari hasil riset yang diterbitkan Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Sulawesi Selatan bersama dengan Koalisi Pemantau Pembangunan Infrastruktur pada Oktober 2017, mengungkap bahwa program KOTAKU perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak, selain karena pembiayaan proyek dari utang Bank Dunia dan Asian Infrastruktur Investment Bank (AIIB) yang akan menambah beban negara, proyek ini juga tidak melibatkan langsung warga yang terkena dampak mulai dari perencanaan awal dan sosialisasi terbuka sehingga warga menganggap bahwa program KOTAKU justru akan menggusur mereka dari tempat tinggalnya dan berpotensi menghilangkan hak warga atas pekerjaan sertalingkungan yang rusak karena reklamasi. Kesimpulannya bahwa program KOTAKU adalah upaya tersistematis untuk mengusir orang miskin di perkotaan dengan mengesampingkan hak asasi sebagai manusia dan sebagai warga negara.
Merdeka bagi warga pesisir Tallo adalah ketika mereka merayakan ritus kemerdekaan dengan tertawa bahagia, terlibat dalam setiap lomba-lomba yang dipertandingkan atau sekedar meramaikan diri menjadi penonton. Setelah semuanya selesai, mereka akan kembali semula pada suatu kondisi yang sesungguhnya belum merdeka dengan terus bertahan dari kerasnya arus kehidupan yang tidak adil. Bagi saya ruang untuk memaknai bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang simbol-simbol nasionalisme tetapi turut menciptakaan rasa merdeka di tempat yang belum sepenuhnya merdeka dari bayang-bayang penggusuran. Untuk itu saya belajar banyak hal pada warga pesisir di Tallo bagaimana menjadi merdeka dengan cara yang sederhana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelorakan perjuangan di kampus! Gapai hak kita!

" Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. (Pramoedya) Waktu itu saya baru semester 2, salah seorang dari civitas akademika kampus memberi saya pesan. “ Jangan ikuti seniormu yang suka demo, fokus kuliah saja”. Hal pertama yang terlintas dipikiran saya adalah tentang larangan untuk ikut berdemonstrasi? Kenapa? Dan apa sebabnya. Apakah perguruan tinggi berperan sebagai “rumah ilmu” ataukah perguruan tinggi merupakan sarana meningkatkan status sosial mahasiswa tersebut. Haruskah seseorang mahasiswa berkutat pada materi-materi kuliah saja ataukah mahasiswa juga melakukan persinggungan dengan realitas objektif (masyarakat)? Bagaimana seharusnya menjadi seorang mahasiswa? Pertanyaan-pertanyaan itu yang terkadang muncul dalam benak kita, yang terkadang kita sendiri tak tahu jawabannya. Dari sini kita bisa lihat bahwa sebetulnya tidaklah terlampau sulit untuk menyimpulkan atas fenomena ketimpangan yang terjadi...

H.O.S Cokroaminoto, Sosialisme Islam, dan Teologi Pembebasan

Bagi kita orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa ‘isme’ lainnya, yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulus, selain dari sosialisme yang berdasar Islam”. (H.O.S Cokroaminoto, 1924 )   (Islam dan Sosialisme karya H.O.S Cokroaminoto. Dok. Pribadi) Guru Bangsa," itulah julukannya. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, bukan hanya sekadar tempat kos bagi anak-anak muda saat itu. Rumahnya adalah habitat intelektual bagi calon-calon pemikir dan penggerak kemerdekaan. Soekarno dengan pemikiran Nasionalisme Indonesia, Kartosuwiryo dengan cita-cita Negara Islam Indonesia, dan Muso, Alimin, serta Semaun dengan ideologi komunisme sebagai jalan pembebasan. Rumah itu hidup dengan anak muda yang berdiskusi tentang bagaimana mereka membayangkan Indonesia di masa depan, merdeka dari kolonialisme Belanda. Rumah itu juga ramai dikunjungi oleh para aktivis dan ulama perintis awal kemerdekaan untuk rapat, berdiskusi, atau pun sekadar membaca buku. Rumah itu adalah milik pemimpin b...

Apakah kita adalah “Joker” dari Negara yang abai terhadap krisis lingkungan hidup?

Sumber Foto: thesunflower.com Film Joker menjadi trending topik sejak pemutaran perdananya pada tanggal 2 Oktober di Indonesia. Di media sosial begitu banyak yang mengapresiasi dan menulis review film ini dari beragam sudut pandang. Bahkan film Joker mendapatkan apresiasi yang luar biasa saat pemutaran perdananya pada salah satu ajang perfilman palin prestisius di dunia, Venice Film Festival dengan standing ovation penonton yang dilakukan selama 8 menit ! Beberapa waktu yang lalu saya pun berkesempatan untuk menonton film tersebut dan jika disuruh memilih menjadi Joker atau Batman, saya lebih baik memilih menjadi Joker. Di dunia nyata kita tidak akan pernah menemukan sosok pahlawan seperti Batman tetapi Joker sendiri adalah kenyataan dari individu-individu yang tidak mendapatkan hak untuk menjadi bahagia dari negara dan akhirnya dengan terpaksa memilih menjadi jahat. “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” merupakan salah satu dialog dalam film tersebut. Indiv...