Langsung ke konten utama

Bangkit, Berorganisasi dan Bergerak Gapai Hak Kita di kampus...

Mahasiswa harus menyadari bahwa negara berkewajiban untuk memenuhi hak-hak demokratisnya. Dengan menyadari ini dan kemudian kita melihat bahwa hak-hak demokratis tersebut tidak dipenuhi oleh negara, maka mau tidak mau kita harus berjuang untuk mendapatkannya. Tapi sekali lagi, untuk memperjuangkan itu semua, mahasiswa membutuhkan alat yang tepat. Dan alat itu adalah organisasi. Hanya dengan berorganisasi lah pemuda-mahasiswa bisa mengaspirasikan tuntutannya dan bersama seluruh massa pemuda-mahasiswa yang tergabung dalam organisasi bisa memperjuangkannya secara bersama.  Karena perubahan tidak bisa tercipta melalui segelintir orang. Tapi perubahan sangat ditentukan oleh kekuatan massa, karena perubahan sesungguhnya adalah karya massa. Dengan bergabung dalam organisasi mahasiswa, massa pemuda-mahasiswa akan bergerak melalui program-program aksi yang konkret untuk memecahkan persoalan yang dihadapi dan menggapai tuntutan-tuntutan hak-hak demokratisnya. Bangkitlah kaum muda Indonesia! 
Mahasiswa mengalami keterasingan dari realita sosial yang ada. Hal ini tidak terlepas dari kurikulum pendidikan yang diterimanya di bangku perkuliahan yang memang memisahkan dirinya dari realitas sosial. Dunia kampus telah didesain oleh negara menjadi “menara gading” yang hanya membuat mahasiswa memandang sesuatu dari permukaan semata. Di bangku kuliah, mahasiswa dijejali dengan serangkaian mata kuliah yang tidak ilmiah. Maksudnya, pelajaran-pelajaran yang didapatkan oleh mahasiswa di bangku kuliah tidak membuat dirinya mampu memahami arti sesungguhnya dari fungsi dan kegunaan itu sendiri. Baik sekolah atau perguruan tinggi saat ini, ada yang dikelola langsung oleh negara dan ada juga yang ditangani oleh pihak swasta. Seiring terjadinya liberalisasi pendidikan dengan maraknya privatisasi dan komersialisasi pendidikan, kondisi institusi pendidikan negeri (milik negara) dan institusi pendidikan swasta (dikelola badan usaha) sudah tidak jauh berbeda, yaitu mahalnya biaya pendidikan, sarana prasarana perkuliahan tak memadai, kebebasan berorganisasi di kampus yang terbatasi. Sementara tentang persoalan pengangguran, juga tidak terlepas dari kondisi dunia pendidikan yang “bobrok”, hingga banyak pemuda di negeri ini sulit mengenyam pendidikan dan ketidakmampuan pemerintah untuk menyerap lulusan dunia pendidikan dalam dunia kerja.
Hak-hak demokratis pemuda-mahasiswa adalah hak-hak normatif atau hak-hak dasar pemuda-mahasiswa yang meliputi kepentingan sosial-ekonomis dan politik yang harus dipenuhi sebagaimana mestinya, baik yang bersifat tuntutan lahiriah ataupun yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan atau peraturan hukum yang berlaku. Secara umum, hak-hak demokratis pemuda-mahasiswa adalah meliputi hak atas pendidikan dan jaminan lapangan pekerjaan. Bangkitlah pemuda-mahasiswa! Karena sejarah  telah mencatat bahwa mahasiswa memiliki peran besar dalam perubahan politik dan sosial baik di dunia dan di Indonesia.
                                                                

                                                                                                                                                Verdhy





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Mahasiswa Sejarah dan Wajib Membaca Buku Kiri

(Dok: Pribadi) Razia buku-buku kiri yang dilakukan oleh aparat negara dan beberapa ormas keagamaan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan Kota Makassar belakangan ini menjadi perhatian publik. Respon solidaritas pun berdatangan dari para pegiat literasi, aktivitis, sastrawan dan akademisi dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memberikan kecaman terhadap tindakan razia buku karena dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi dan melanggar hak asasi manusia (HAM). Seminggu terakhir saya menunggu tulisan kritis dari para akademisi, dosen ataupun sejarawan di Kota Makassar dalam menyikapi polemik razia buku-buku kiri terkhususnya buku sejarah yang berkaitan dengan tema ideologi komunisme, gerakan komunisme Indonesia dan Peristiwa Gerakan 30 September (G30 S) 1965. Tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan satu pun tulisan yang terbit di media cetak ataupun media online. Tentunya kita membutuhkan pendapat dan pandangan mereka kenapa buku-buku sejarah yang dikategorika...

Tentang Kultur Kampus dan Penafsiran yang Keliru

by Salvador Dali (1943) Tulisan ini menurut saya adalah sebuah keberanian dari proses merasakan, melihat dan berusaha menyimpulkan keadaan kongkret yang sebenarnya terjadi. Keberaniannya terletak pada subjektifitas saya sendiri, karena menulis juga membutuhkan keberanian menyampaikan pesan kemanusiaan dari fakta yang terjadi. Di sisi lain, selama saya menjadi mahasiswa belum juga saya menemukan tulisan-tulisan yang membahas tentang kultur kampus, sesuatu yang sensitif menurut kebanyakan mahasiswa yang menurut saya mungkin saja karena sudah terbius pemaknaan dengan kultur itu. Sekali lagi saya tertarik menulisnya dengan segala konsekuensinya. Hal apa yang pertama kali anda dapatkan pada saat menjadi mahasiswa dan berinteraksi dengan lembaga kampus melalui aktivitas atau kegiatan yang bernama kaderisasi? Pribadi saya menjawab bahwa yang saya dapatkan adalah bagaimana menghargai angkatan mahasiswa yang lebih tua. Bagaimana cara saya menghargainya? Seperti mahasiswa lainnya yang masih...

H.O.S Cokroaminoto, Sosialisme Islam, dan Teologi Pembebasan

Bagi kita orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa ‘isme’ lainnya, yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulus, selain dari sosialisme yang berdasar Islam”. (H.O.S Cokroaminoto, 1924 )   (Islam dan Sosialisme karya H.O.S Cokroaminoto. Dok. Pribadi) Guru Bangsa," itulah julukannya. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, bukan hanya sekadar tempat kos bagi anak-anak muda saat itu. Rumahnya adalah habitat intelektual bagi calon-calon pemikir dan penggerak kemerdekaan. Soekarno dengan pemikiran Nasionalisme Indonesia, Kartosuwiryo dengan cita-cita Negara Islam Indonesia, dan Muso, Alimin, serta Semaun dengan ideologi komunisme sebagai jalan pembebasan. Rumah itu hidup dengan anak muda yang berdiskusi tentang bagaimana mereka membayangkan Indonesia di masa depan, merdeka dari kolonialisme Belanda. Rumah itu juga ramai dikunjungi oleh para aktivis dan ulama perintis awal kemerdekaan untuk rapat, berdiskusi, atau pun sekadar membaca buku. Rumah itu adalah milik pemimpin b...