Langsung ke konten utama

Dunia Tanpa Cermin


13.23 WITA, masih berfantasi dengan mimpi-mimpi
Tertawa dengan bau nafas begitu menyengat kemana-mana…
Beranda seakan muak dengan tingkah konyolnya…
Makhluk tak berTuhan menemani setiap langkah kakinya…

Apa pedulinya kau dengan diriku
Terlontar dari mulut nuraninya..
Seakan memberontak kepada dunia yang bukan dunia lagi…
Lantas apa yang kau hina tanpa bercermin pada kemunafikan..
Saya, kau atau mereka?

Semua mencari celah kotor lalu menghempaskan ke tanah yang bertuan…
Apakah semua tak memiliki cermin masa lalu?
Atau kah dunia ini memang tak bercermin lagi?
Mungkin saja karena nafsu telah menggorogoti kedamaian…
Buang semua kebersamaan dan biarkan dunia tanpa cermin
                                                                                                            12 November 2011
                                                                                                Tanpa Cermin aku tak ada meski ada




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Mahasiswa Sejarah dan Wajib Membaca Buku Kiri

(Dok: Pribadi) Razia buku-buku kiri yang dilakukan oleh aparat negara dan beberapa ormas keagamaan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan Kota Makassar belakangan ini menjadi perhatian publik. Respon solidaritas pun berdatangan dari para pegiat literasi, aktivitis, sastrawan dan akademisi dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memberikan kecaman terhadap tindakan razia buku karena dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi dan melanggar hak asasi manusia (HAM). Seminggu terakhir saya menunggu tulisan kritis dari para akademisi, dosen ataupun sejarawan di Kota Makassar dalam menyikapi polemik razia buku-buku kiri terkhususnya buku sejarah yang berkaitan dengan tema ideologi komunisme, gerakan komunisme Indonesia dan Peristiwa Gerakan 30 September (G30 S) 1965. Tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan satu pun tulisan yang terbit di media cetak ataupun media online. Tentunya kita membutuhkan pendapat dan pandangan mereka kenapa buku-buku sejarah yang dikategorika...

Tentang Kultur Kampus dan Penafsiran yang Keliru

by Salvador Dali (1943) Tulisan ini menurut saya adalah sebuah keberanian dari proses merasakan, melihat dan berusaha menyimpulkan keadaan kongkret yang sebenarnya terjadi. Keberaniannya terletak pada subjektifitas saya sendiri, karena menulis juga membutuhkan keberanian menyampaikan pesan kemanusiaan dari fakta yang terjadi. Di sisi lain, selama saya menjadi mahasiswa belum juga saya menemukan tulisan-tulisan yang membahas tentang kultur kampus, sesuatu yang sensitif menurut kebanyakan mahasiswa yang menurut saya mungkin saja karena sudah terbius pemaknaan dengan kultur itu. Sekali lagi saya tertarik menulisnya dengan segala konsekuensinya. Hal apa yang pertama kali anda dapatkan pada saat menjadi mahasiswa dan berinteraksi dengan lembaga kampus melalui aktivitas atau kegiatan yang bernama kaderisasi? Pribadi saya menjawab bahwa yang saya dapatkan adalah bagaimana menghargai angkatan mahasiswa yang lebih tua. Bagaimana cara saya menghargainya? Seperti mahasiswa lainnya yang masih...

H.O.S Cokroaminoto, Sosialisme Islam, dan Teologi Pembebasan

Bagi kita orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa ‘isme’ lainnya, yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulus, selain dari sosialisme yang berdasar Islam”. (H.O.S Cokroaminoto, 1924 )   (Islam dan Sosialisme karya H.O.S Cokroaminoto. Dok. Pribadi) Guru Bangsa," itulah julukannya. Rumahnya di Gang Peneleh, Surabaya, bukan hanya sekadar tempat kos bagi anak-anak muda saat itu. Rumahnya adalah habitat intelektual bagi calon-calon pemikir dan penggerak kemerdekaan. Soekarno dengan pemikiran Nasionalisme Indonesia, Kartosuwiryo dengan cita-cita Negara Islam Indonesia, dan Muso, Alimin, serta Semaun dengan ideologi komunisme sebagai jalan pembebasan. Rumah itu hidup dengan anak muda yang berdiskusi tentang bagaimana mereka membayangkan Indonesia di masa depan, merdeka dari kolonialisme Belanda. Rumah itu juga ramai dikunjungi oleh para aktivis dan ulama perintis awal kemerdekaan untuk rapat, berdiskusi, atau pun sekadar membaca buku. Rumah itu adalah milik pemimpin b...