Kami kehilangan kawan karena sudah kepastian bahwa semua yang hidup pasti akan kembali ke asalnya.. tetapi kami tidak kehilangan semangat juang dari kawan kami yang telah pergi meninggalkan sejarah dan makna bahwa pentingnya hidup tanpa menggadaikan harga diri kepada orang lain.. "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri " (Nyai Ontosoroh).. Terima kasih pejuang hidup, terkhusus kawan sekaligus orang tua kami M. Arsyad Dg Nyampa (Ketua Serikat Tani Polongbangkeng Takalar).. Selamat jalan.. Semoga Mendapat tempat yang layak disisiNya. Aamiin
(Dok: Pribadi) Razia buku-buku kiri yang dilakukan oleh aparat negara dan beberapa ormas keagamaan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan Kota Makassar belakangan ini menjadi perhatian publik. Respon solidaritas pun berdatangan dari para pegiat literasi, aktivitis, sastrawan dan akademisi dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memberikan kecaman terhadap tindakan razia buku karena dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi dan melanggar hak asasi manusia (HAM). Seminggu terakhir saya menunggu tulisan kritis dari para akademisi, dosen ataupun sejarawan di Kota Makassar dalam menyikapi polemik razia buku-buku kiri terkhususnya buku sejarah yang berkaitan dengan tema ideologi komunisme, gerakan komunisme Indonesia dan Peristiwa Gerakan 30 September (G30 S) 1965. Tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan satu pun tulisan yang terbit di media cetak ataupun media online. Tentunya kita membutuhkan pendapat dan pandangan mereka kenapa buku-buku sejarah yang dikategorika...

Komentar
Posting Komentar