Langsung ke konten utama

Postingan

Saya Mahasiswa Sejarah dan Wajib Membaca Buku Kiri

(Dok: Pribadi) Razia buku-buku kiri yang dilakukan oleh aparat negara dan beberapa ormas keagamaan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dan Kota Makassar belakangan ini menjadi perhatian publik. Respon solidaritas pun berdatangan dari para pegiat literasi, aktivitis, sastrawan dan akademisi dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka memberikan kecaman terhadap tindakan razia buku karena dianggap bertentangan dengan prinsip demokrasi dan melanggar hak asasi manusia (HAM). Seminggu terakhir saya menunggu tulisan kritis dari para akademisi, dosen ataupun sejarawan di Kota Makassar dalam menyikapi polemik razia buku-buku kiri terkhususnya buku sejarah yang berkaitan dengan tema ideologi komunisme, gerakan komunisme Indonesia dan Peristiwa Gerakan 30 September (G30 S) 1965. Tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan satu pun tulisan yang terbit di media cetak ataupun media online. Tentunya kita membutuhkan pendapat dan pandangan mereka kenapa buku-buku sejarah yang dikategorika...

Sampah Pantai Losari dan Reklamasi

Berkunjung ke Pantai Losari kini tidak hanya disuguhkan dengan pemandangan matahari terbenam dan beragam wisata kuliner khas Kota Makassar. Air laut berwarna hitam dan sampah berbagai jenis yang mengeluarkan bau menyengat telah menjadi pemandangan biasa setiap harinya bagi pengunjung Pantai Losari. Penataan Pantai Losari sebagai destinasi wisata pantai nyaman dan bersih tidak akan pernah terwujud jika permasalahan sampah belum mampu ditangani dengan serius oleh Pemerintah Kota Makassar. Tumpukan sampah yang berserakan di bibir Pantai Losari   merupakan persoalan klasik yang telah terjadi sejak lama meskipun berbagai program kebijakan pengelolaan sampah telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar tetapi ternyata belum juga mampu mengatasi persoalan sampah tersebut. Yang menjadi sorotan publik saat ini ketika Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Makassar, M Iqbal S Suhaeb meninjau langsung Pantai Losari dan menyaksikan berbagai jenis sampah berserakan pada Minggu 7 juli 2019. Menur...

Kenapa akhirnya saya menggunakan hak politik saya pada PEMILU tahun ini

(sumber foto: Facebook WALHI) Pencoblosan telah selesai 17 April yang lalu tetapi ada banyak cerita-cerita yang belum usai. Penting bagi saya untuk menulis ini, setidaknya menjawab beberapa pertanyaan, tuduhan dan cerita miring tentang saya sendiri terkait sikap saya dalam momentum Pemilihan Umum (PEMILU) tahun ini. Setelah ini tidak ada yang berubah selain terus berbenah diri dan belajar tanpa henti. 10 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2009 pertama kali saya menggunakan hak pilih saya sebagai warga negara pada usia 17 tahun. Saya masih ingat betul pasangan calon presiden dan wakil presiden yang saya pilih adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono. Singkat cerita alasan saya memilih SBY-Boediono. Ketika itu bapak saya sepulang dari Jakarta dalam sebuah rangkaian acara membawa banyak buku dan salah satu buku tersebut ada yang mengulas habis tentang sosok SBY. Buku itu berjudul “Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY ” ditulis oleh   Dino Patti Jalal juru bicara Preside...

Menakar Nalar Demokrasi Rakyat dan Mahasiswa

Bahas Pemilu, demokrasi dan politik itu berat yah , cukup politisi, akademisi, mahasiswa, dan aktivis saja. Rakyat tidak akan kuat, karena rakyat hanyalah objek yang pasif atau pelengkap dalam sebuah negara demokrasi yang masih   didominasi oleh kuasa modal, kekuatan elit oligarki yang dilakukan dengan praktik tranksaksional. Tulisan ini mencoba untuk mengkritisi tulisan sebelumnya dari Sofyan Thamrin berjudul “Mahasiswa dan Kosongnya Nalar Demokrasi” yang dipublikasikan KalaLiterasi pada tanggal 17 Maret 2019 ( http://kalaliterasi.com/mahasiswa-dan-kosongnya-nalar-demokrasi/) Pernyataan mengenai rakyat masih gagap, awam dan mentalitasnya rentan dalam berbagai penyimpangan politik adalah pernyataan yang harus ditinjau kembali, apa dasar konseptual dan faktualnya dari tulisan Sofyan Thamrin. Jika tidak, kita justru   akan menggeneralisasikan bahwa kesadaran politik rakyat seperti itulah keadaannya. Bahwa memang betul adanya jika masih ada rakyat yang menggantungkan nasi...

Gerakan Mahasiswa, eh... Sekelompok Mahasiswa Makassar Tolak Film Dilan 1991

(Sumber Foto: Fimela.com) Gerakan mahasiswa Kota Makassar kembali viral diberitakan oleh berbagai media. Mungkin sangat berlebihan jika saya menyebutnya gerakan, lebih tepatnya sekelompok kecil mahasiswa yang mengaku memegang teguh falsafah Bugis-Makassar ini mengepung mall yang menayangkan sekuel Film Dilan 1991. Alasannya begitu kritis, film tersebut katanya tidak sesuai dengan budaya timur yang santun dan bisa memicu kekerasan dalam dunia pendidikan. Bisa jadi setelah mereka menganalisa situasi umum   perkembangan kapitalisme internasional dan memadukannya dengan situasi khusus kondisi pendidikan di Indonesia, maka ditariklah sebuah kesimpulan yang lahir dari kondisi objektif. “Bahwa salah satu akar masalah dalam dunia pendidikan Indonesia adalah film-film yang melenceng dari konteks budaya Indonesia, dan Film Dilan 1991 pantas untuk ditolak pemutarannya”. Izinkan saya tertawa, sebelum melanjutkan tulisan ini. Hahahahaha Begitu progresifnya sekelompok mahasiswa in...

Pramoedya dan Percakapan Tiga Lelaki

Hari ini Pram berulang tahun! 06 Februari 1925 lelaki asal Blora, Jawa Tengah itu lahir. Lelaki keras kepala yang seluruh kemerdekaan hidupnya dirampas oleh penguasa, kecuali isi kepalanya yang dituangkan melalui karya-karya tulisan adalah kebebasan sejati manusia melihat penderitaan manusia atas manusia. Seperti katanya sendiri dalam karya Roman Jejak Langkah (1985); “masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri” . Penjara dan penyiksaan dari rezim penguasa yang berbeda tak membuatnya bungkam. Penjara bagi mereka yang teguh pada keyakinan dan keberpihakan kepada kemanusiaan adalah kepanikan bagi rezim penguasa. Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya terbaiknya yang lahir dari segala penderitaan dan keterbatasannya di penjara. Penjara yang sesungguhnya bagi Pram adalah kemalasan dan ketidakpedulian. “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati” adalah kalimat sederhana yang disampaikan Pram lewat Roman Bumi M...

Masjid?

Bangunlah tempat ibadah yang megah, maka Tuhan akan menerima setiap doa-doamu . Mungkin saja itu yang ada dalam benak pikiran para penggagas mega proyek Center Poin of Indonesia (CPI) dengan membangun Masjid 99 Kubah di area reklamasi seluas kurang lebih 150 hektar yang terletak di depan Pantai Losari Kota Makassar. Masjid yang didesain langsung oleh Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat saat ini, kelak akan menjadi masjid termegah di Benua Asia dan ikon wisata religi baru di Sulawesi Selatan. Lokasinya begitu dekat dengan Masjid Terapung Amirul Mukminin Pantai Losari, masjid yang juga merupakan ikon Kota Makassar. Patutlah berbangga penghuni kota ini, dua masjid megah tersebut menjadi tempat beribadah yang nyaman dan menawarkan keindahan panorama Pantai Losari . Seakan ingin menegaskan bahwa Jika kau ingin khuysuk bertemu Tuhan, temuilah ditempat-ditempat yang nyaman dan indah . Masjid 99 Kubah dibangun dibekas tanah tumbuh, dulunya merupakan tempat bermukimnya nelayan tradisiona...